Bahaya Kinerja Mengintai: Mengapa Boreout jadi Ancaman Nyata Pekerja Modern

Oleh f.andrian
TL;DR
  • Di tengah tingginya perhatian terhadap burnout akibat beban kerja berlebih, ada ancaman lain yang bekerja secara senyap di lingkungan kerja, yaitu boreout syndr

Di tengah tingginya perhatian terhadapburnoutakibat beban kerja berlebih, ada ancaman lain yang bekerja secara senyap di lingkungan kerja, yaituboreout syndrome.

Berbeda denganburnoutyang dipicu oleh kelelahan fisik dan mental akibat tuntutan yang terlalu tinggi,boreoutjustru lahir dari krisis stimulasi, minimnya tantangan, dan ketiadaan makna dalam pekerjaan sehari-hari.

Fenomena ini bukan sekadar kebosanan biasa yang hilang setelah istirahat makan siang, melainkan kondisi stres kronis yang perlahan menggerogoti kesehatan mental serta profesionalisme seorang karyawan.

Istilahboreoutpertama kali dicetuskan secara ilmiah oleh dua konsultan manajemen asal Swiss, Philippe Rothlin dan Peter Werder, pada tahun 2007 melalui buku merekaDiagnosing Boreout.

Menurut temuan mereka,boreoutberdiri di atas tiga elemen utama yang saling berkaitan: kebosanan mendalam (boredom), kurangnya beban kerja atau tantangan (underload), dan hilangnya ketertarikan terhadap pekerjaan (lack of interest).

Ketika seseorang berada dalam situasi di mana kapasitas intelektualnya jauh melampaui tugas yang diberikan, rasa frustrasi sistematis akan mulai terbentuk.

Dari kacamata psikologi organisasi,boreoutberkaitan erat dengan fenomenahypostress, kondisi di mana seseorang mengalami kekurangan stimulasi psikologis dalam jangka panjang.

Studi dalam bidang neuropsikologi menunjukkan bahwa otak manusia membutuhkan tingkat arousal atau stimulasi tertentu untuk mempertahankan fokus dan motivasi.

Ketika otak tidak menerima tantangan yang memadai secara konsisten, produksi dopamin menurun, yang memicu penurunan fungsi kognitif, kelelahan mental, hingga perasaan tidak berharga (low self-efficacy).

Salah satu dampak psikologis paling unik sekaligus merusak dariboreoutadalah munculnya perilaku kompensasi berupapretending to work(pura-pura sibuk).

Karyawan yang mengalamiboreoutsering kali merasa bersalah atau takut kehilangan pekerjaan jika mengeluh tidak punya tugas.

Akibatnya, mereka menghabiskan energi psikologis yang besar hanya untuk berpura-pura mengetik, memperpanjang durasi pengerjaan tugas sederhana, atau membuka berkas agar terlihat produktif. Beban emosional akibat berpura-pura ini justru menambah tingkat stres yang mereka alami.

Secara medis, dampakboreouttidak boleh dipandang sebelah mata karena dapat memicu masalah kesehatan fisik dan psikis yang serius.

Penelitian psikologi kesehatan menunjukkan bahwa stres akibat ketidakberdayaan dan kebosanan kronis dapat meningkatkan kadar hormon kortisol dalam tubuh secara konstan.

Kondisi ini berisiko memicu gangguan tidur, sakit kepala psikosomatis, kecemasan (anxiety), hingga gejala depresi klinis. Rasa hampa yang dialami pekerja secara bertahap merusak persepsi mereka terhadap identitas dan harga diri.

Bagi perusahaan,boreoutmerupakan kerugian finansial dan operasional yang tidak terlihat (invisible drain).

Pekerja yang mengalamiboreoutcenderung mengalami penurunan produktivitas yang signifikan, tingkat kehadiran yang buruk, serta fenomenapresenteeismatau hadir secara fisik di kantor namun tidak berkontribusi secara mental.

Riset mengenai perilaku organisasi mengonfirmasi bahwa kondisi ini menurunkan tingkat retensi karyawan berpotensi tinggi, karena mereka yang berbakat akan memilih mengundurkan diri demi mencari tantangan yang lebih relevan.

Mengatasiboreoutmembutuhkan pendekatan proaktif dari tingkat manajemen maupun individu. Perusahaan perlu menerapkan konsepjob crafting, yaitu memberikan ruang bagi karyawan untuk menyesuaikan dan memperluas cakupan tugas mereka sesuai dengan minat serta potensi yang dimiliki.

Selain itu, transparansi komunikasi dan penciptaan lingkungan kerja yang aman secara psikologis (psychological safety) sangat krusial, agar karyawan dapat menyampaikan ketidakseimbangan beban kerja tanpa takut dianggap malas atau tidak kompeten.

Pada akhirnya,boreoutadalah sinyal alarm bahwa manusia tidak dirancang hanya untuk sekadar mengisi waktu di meja kerja, melainkan untuk berkembang dan memberi dampak.

Mengabaikan kebosanan kronis di tempat kerja sama bahayanya dengan membiarkan pekerja mengalami kelelahan ekstrem.

Dengan mengenali gejalaboreoutsecara dini dan membangun budaya kerja yang berbasis pada makna serta tantangan yang sehat, perusahaan tidak hanya menyelamatkan kesehatan mental anggotanya, tetapi juga menjaga keberlanjutan inovasi organisasi.

Sumber: Springer Link, Semantic Scholar