Begadang Bikin Gemuk? Ini Penjelasan Ilmiah Kenapa Kurang Tidur Bikin Lemak Menumpuk

Oleh f.andrian
TL;DR
  • Kebiasaan tidur larut malam atau begadang kini telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern, mulai dari alasan tuntutan pekerjaan hingga sekadar mengh

Kebiasaan tidur larut malam atau begadang kini telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern, mulai dari alasan tuntutan pekerjaan hingga sekadar menghabiskan waktu denganscrollingmedia sosial.

Sayangnya, di balik kesenangan menikmati waktu tenang di malam hari, ada dampak buruk yang mengintai kesehatan fisik secara diam-diam. Salah satu efek samping nyata dari kebiasaan buruk ini adalah meningkatnya risiko penumpukan lemak tubuh, terutama di area perut.

Banyak orang mengira bahwa berat badan hanya dipengaruhi oleh berapa banyak makanan yang dikonsumsi dan seberapa sering seseorang berolahraga. Padahal, kualitas dan durasi tidur memegang peranan yang tak kalah krusial dalam mengatur metabolisme tubuh.

"Ketika seseorang kurang tidur, kadar hormon ghrelin mereka meningkat dan kadar leptin menurun. Perubahan hormonal ini mendorong keinginan untuk makan berlebih, terutama makanan tinggi kalori, yang seiring waktu menyebabkan kenaikan berat badan," tulis publikasi dari Harvard School of Public Health

Saat seseorang kekurangan tidur, fungsi otak dan sistem endokrin akan terganggu, yang pada akhirnya mengacaukan mekanisme alami tubuh dalam mengolah energi dan menyimpan lemak.

Salah satu pemicu utama kenaikan berat badan akibat begadang adalah ketidakseimbangan hormon pengatur nafsu makan, yaitughrelindanleptin. Kurang tidur menyebabkan tubuh memproduksi lebih banyak hormonghrelinyang memberikan sinyal lapar ke otak, sementara produksi hormonleptinyang berfungsi memberi rasa kenyang justru menurun.

Akibatnya, orang yang begadang akan cenderung merasa sangat lapar di tengah malam dan sulit mengontrol porsi makan.

Kondisi tersebut diperparah oleh jenis makanan yang biasanya dicari saat terjaga hingga larut malam. Secara biologis, otak yang lelah akan mengidamkan makanan tinggi kalori, karbohidrat sederhana, dan gula untuk mendapatkan energi instan.

Dorongan untuk melakukannighttime snackingatau camilan malam ini hampir selalu berujung pada asupan kalori berlebih yang tidak sempat dibakar karena tubuh akan segera beristirahat atau tidak melakukan aktivitas fisik yang berarti.

Tak hanya soal asupan makanan, begadang juga merangsang pelepasan hormon stres yang dikenal sebagaikortisol. Ketika tubuh mengalami deprivasi tidur, tingkat stres fisiologis akan meningkat dan memicu produksi kortisol secara berlebihan.

Hormon kortisol ini memiliki sifat unik yang mendorong tubuh untuk menyimpan energi dalam bentuk lemak visceral, yaitu jenis lemak berbahaya yang menumpuk di sekitar organ-organ dalam di area perut.

Selain itu, kebiasaan jarang tidur tepat waktu terbukti mengganggu sensitivitas insulin dalam tubuh. Ketika sensitivitas insulin menurun, sel-sel tubuh menjadi kurang responsif dalam menyerap glukosa dari aliran darah.

Akibatnya, gula darah yang tidak terpakai ini akan diubah oleh hati menjadi asam lemak dan disimpan sebagai jaringan lemak, sehingga meningkatkan risiko resistensi insulin dan kenaikan berat badan secara signifikan.

Dampak begadang juga berlanjut hingga keesokan harinya berupa penurunan tingkat aktivitas fisik harian. Seseorang yang terbangun dalam kondisi lelah dan kurang energi secara tidak sadar akan mengurangi pergerakan tubuhnya (Non-Exercise Activity Thermogenesis/NEAT).

Rasa kantuk yang berat membuat orang lebih malas bergerak, enggan berolahraga, dan memilih untuk banyak duduk, sehingga jumlah kalori harian yang dibakar menjadi jauh lebih sedikit dari biasanya.

Melihat begitu kompleksnya dampak deprivasi tidur terhadap metabolisme, membenahi pola tidur adalah langkah mutlak bagi siapa saja yang ingin menjaga berat badan ideal.

Mengatur waktu tidur yang cukup antara 7 hingga 9 jam setiap malam bukan sekadar tentang menghilangkan rasa lelah, melainkan investasi penting untuk menjaga keseimbangan hormon dan mencegah penumpukan lemak tubuh yang membahayakan kesehatan jangka panjang.

Sumber: Harvard School of Public Health, Mayo Clinic, National Institutes of Health