Cabai Rp90 Ribu, Sembako Membara! Dompet Rakyat Tertekan
- Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia, harga cabai rawit merah tercatat mencapai Rp90 ribu per kg atau mengalami kenaikan sekitar 7,2 persen
- Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional menyatakan terus melakukan upaya stabilisasi harga, salah satunya dengan mobilisasi stok dari daerah surplus ke wilayah yang mengalami kekurangan pasokan melalui program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP)
JAKARTA — Harga pangan kembali menjadi sorotan setelah harga cabai rawit merah melonjak tajam dan menembus Rp90 ribu per kilogram pada Minggu (13/9/2026).
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia, harga cabai rawit merah tercatat mencapai Rp90.050 per kg atau mengalami kenaikan sekitar 7,2 persen.
Lonjakan ini membuat cabai menjadi salah satu komoditas pangan dengan kenaikan paling tinggi dalam beberapa waktu terakhir.
Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada cabai rawit merah. Sejumlah bahan pokok lain juga mengalami pergerakan harga.
Data PIHPS mencatat cabai merah keriting berada di kisaran Rp62.950 per kg setelah mengalami kenaikan sekitar 9 persen, sementara cabai rawit hijau mencapai sekitar Rp64.700 per kg.
Kondisi ini membuat kelompok bumbu dapur menjadi salah satu penyumbang tekanan terbesar bagi pengeluaran rumah tangga.
Selain cabai, harga komoditas dapur lainnya juga masih menjadi perhatian masyarakat. Bawang merah tercatat berada pada kisaran puluhan ribu rupiah per kilogram, sementara bawang putih juga masih berada pada level tinggi.
Kenaikan berbagai komoditas ini membuat masyarakat harus mengatur ulang belanja harian, terutama bagi rumah tangga dengan konsumsi pangan yang cukup besar.
Sementara itu, beberapa bahan pokok utama seperti beras masih relatif lebih stabil dibandingkan cabai.
Harga beras premium secara nasional masih berada di kisaran Rp15 ribuan per kilogram, sedangkan beras medium berada di kisaran Rp13 ribu hingga Rp16 ribuan tergantung wilayah dan kualitas.
Pemerintah terus menjaga pasokan beras melalui distribusi dan penguatan stok nasional agar harga tetap terkendali.
Komoditas protein juga ikut menjadi perhatian. Harga telur ayam ras segar tercatat sekitar Rp29.250 per kilogram, sementara harga daging ayam ras di sejumlah daerah masih berada di kisaran Rp39 ribuan per kilogram.
Meski beberapa komoditas protein mengalami penurunan atau relatif stabil, masyarakat tetap merasakan tekanan karena kenaikan terjadi pada bahan pangan yang digunakan hampir setiap hari.
Dari sisi petani, tingginya harga cabai tidak selalu berarti keuntungan besar. Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia Tunov Mondro Atmojo menyebut kenaikan harga terjadi karena gangguan produksi akibat kondisi cuaca dan berkurangnya ketersediaan air.
“Penyebab kenaikan ini disebabkan karena murni faktor cuaca dan mengakibatkan ketersediaan air habis, tanaman cabai yang telah petani tanam akhirnya hanya mengandalkan tanaman eksisting yang sedang berproduksi.” kata Tunov.
Namun dari sisi konsumen, kenaikan harga pangan menjadi beban tambahan yang langsung terasa. Pedagang pasar mengaku harga cabai yang tinggi membuat sebagian pembeli mengurangi jumlah pembelian.
Masyarakat pun berharap pemerintah tidak hanya menjaga pasokan, tetapi juga memastikan distribusi berjalan efisien agar selisih harga dari petani hingga konsumen tidak terlalu besar.
Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional menyatakan terus melakukan upaya stabilisasi harga, salah satunya dengan mobilisasi stok dari daerah surplus ke wilayah yang mengalami kekurangan pasokan melalui program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP).
Langkah tersebut dilakukan untuk menekan gejolak harga sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
Kenaikan harga cabai hingga Rp90 ribu per kilogram menjadi alarm bahwa stabilitas pangan masih menjadi pekerjaan besar.
Di tengah kebutuhan hidup yang terus meningkat, masyarakat berharap pemerintah mampu menjaga keseimbangan antara kesejahteraan petani dan kemampuan rakyat membeli bahan pokok sehari-hari. Jangan sampai dapur rakyat kembali menjadi korban ketika harga pangan mulai “memanas”.
Sumber: Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia, Bapanas
( fan / fan )
Komentar (0)