Purbaya Pede Pacu Ekonomi Ri Tembus 6 Persen di Tengah Badai Inflasi Global

Oleh Sir Arafat
TL;DR
  • Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis perekonomian Indonesia mampu tumbuh kuat pada triwulan II 2026 di tengah ketidakpastian ekonomi global. Dia mem

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis perekonomian Indonesia mampu tumbuh kuat pada triwulan II 2026 di tengah ketidakpastian ekonomi global. Dia memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tahun 2026 bakal berada pada kisaran 5,6 hingga 6 persen.

Penetapan target tersebut tergolong ambisius mengingat Dana Moneter Internasional memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global edisi Juli 2026 menjadi 3 persen secara tahunan. Pemangkasan angka pertumbuhan dunia tersebut terjadi akibat tekanan inflasi global yang kembali merangkak naik.

Purbaya menegaskan perekonomian nasional bakal tetap pulih dan tumbuh kokoh karena daya beli masyarakat terjaga secara konsisten. Program stimulus ekonomi serta penguatan perlindungan sosial menjadi motor utama dalam mendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga.

Dia menjelaskan peran krusial Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dalam meredam dampak dinamika ekonomi global terhadap masyarakat. Pemerintah secara aktif mengintervensi pasar untuk menjaga keterjangkauan harga pangan serta energi di seluruh wilayah tanah air.

"Ekonomi Indonesia pada triwulan kedua 2026 diperkirakan tetap tumbuh kuat di tengah tantangan ekonomi global. Daya beli masyarakat tetap terjaga dalam mendukung konsumsi rumah tangga, didukung oleh absorber APBN dalam mendorong efektivitas program perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan dan energi, penciptaan lapangan kerja serta stimulus pada periode libur sekolah," kata Purbaya.

Di sisi investasi, Purbaya memperkirakan pertumbuhan modal akan tetap kuat berkat akselerasi proyek-proyek strategis nasional. Dia menilai keberlanjutan program hilirisasi bernilai tambah tinggi dan pembangunan infrastruktur menjadi pemacu utama daya tarik investasi.

Selain investasi swasta, konsumsi pemerintah turut mencatatkan tren positif seiring percepatan penyaluran anggaran program prioritas. Penyaluran bantuan sosial serta pembayaran gaji ke-13 bagi aparatur sipil negara menjadi pendorong utama realisasi belanja negara.

Purbaya menyoroti penguatan koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga kecukupan likuiditas perekonomian serta perbankan nasional. Langkah harmonisasi tersebut berhasil mendorong pertumbuhan fungsi intermediasi perbankan secara signifikan.

Indikator keberhasilan koordinasi moneter tersebut terlihat nyata dari tingginya pertumbuhan uang primer sepanjang triwulan II 2026. Dia mencatat pertumbuhan uang primer tersebut berlanjut hingga menyentuh angka 15,4 persen pada minggu ketiga Juli 2026.

"Koordinasi kebijakan antara pemerintah dan BI terus diperkuat dalam menjaga kecukupan likuiditas perekonomian dan perbankan. Ini tercermin dari pertumbuhan uang primer yang tinggi sepanjang triwulan II dan berlanjut tumbuh 15,4% pada Juli, Minggu ketiga 2026 dan fungsi intermediasi perbankan yang semakin baik," jelas Purbaya.

Sektor manufaktur nasional yang sempat melambat pada akhir triwulan II kini telah menunjukkan kurva pemulihan yang menjanjikan. Purbaya menyebutkan industri pengolahan berhasil kembali ke zona ekspansif pada memasuki periode Juli 2026.

Kondisi positif sektor industri tersebut tecermin dari kenaikan Indeks Manajer Pembelian manufaktur yang kembali menembus angka 50,2. Dia menilai pencapaian tersebut menandakan kebangkitan aktivitas produksi dan peningkatan permintaan domestik.

Penguatan Sinergi Komite Stabilitas

Ke depan, Purbaya menegaskan komitmen pemerintah untuk terus mempererat sinergi lintas lembaga bersama Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan. Kolaborasi empat pilar tersebut dinilai sangat vital untuk mengawal momentum pemulihan ekonomi nasional.

Penguatan sinergi antarlembaga tersebut diharapkan mampu meredam potensi risiko eksternal yang masih membayangi pasar keuangan. Dia meyakini integrasi kebijakan fiskal dan moneter akan memperkuat fondasi ekonomi Indonesia hingga akhir tahun. "Dengan sinergi kebijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun 2026 diperkirakan berada dalam kisaran 5,6-6% year-on-year ditopang berbagai sinergi kebijakan pemerintah dan lembaga anggota KSSK lainnya, untuk menjaga berlanjutnya momentum pertumbuhan," pungkas Purbaya menekankan.