Tak Penuhi Standar Sanitasi, 833 Dapur MBG Ditutup Permanen
- Badan Gizi Nasional (BGN) menutup permanen 833 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penutupan dilakukan setelah
Badan Gizi Nasional (BGN) menutup permanen 833 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penutupan dilakukan setelah BGN menemukan persoalan higienitas, sanitasi, kualitas makanan, hingga pengelolaan limbah yang tidak memenuhi standar.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan sejumlah dapur telah diberi tenggat waktu untuk memperbaiki kekurangan. Namun, pengelola tidak melakukan evaluasi maupun pembenahan sesuai ketentuan yang telah ditetapkan.
“Kami kasih tenggat waktu untuk diperbaiki, tapi tidak diperbaiki, maka kami suspend secara permanen,” kata Sudaryono.
Sudaryono menjelaskan, pelanggaran yang ditemukan mencakup aspek kebersihan dapur, sanitasi, kasus keracunan, kualitas makanan yang buruk, serta Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Menurut dia, seluruh aspek tersebut menjadi bagian dari standar layanan MBG yang wajib dipenuhi oleh setiap SPPG.
Penutupan ratusan dapur tidak akan menghentikan distribusi makanan kepada anak-anak penerima manfaat. BGN akan mengalihkan porsi layanan ke dapur lain yang berada di sekitar sekolah terdampak.
“Kami memastikan jangan sampai yang tadinya menerima manfaat jadi tidak menerima. Begitu di-suspend, secara otomatis kami akan membagi porsi layanan kepada dapur-dapur lain di sekitar situ,” ujarnya,
Menurut Sudaryono, langkah penutupan ini sekaligus menegaskan bahwa program MBG tidak hanya berorientasi pada penyediaan makanan dalam jumlah besar. Program tersebut menempatkan kecukupan gizi sebagai tolok ukur utama dalam pelayanan kepada peserta didik.
“Sekali lagi ini namanya Makan Bergizi Gratis, bukan makan enak gratis, bukan makan banyak gratis. Mencukupkan gizinya lah yang menjadi tolok ukurnya,” katanya.
Dia menambahkan, BGN ingin memastikan menu MBG tersaji dengan baik, kandungan gizinya terpenuhi, dan program tersebut tetap mendorong perputaran ekonomi lokal. Karena itu, pengawasan terhadap kualitas dapur dan layanan akan terus diperketat.
BGN juga membuka kemungkinan melakukan penindakan lanjutan apabila masih ditemukan SPPG yang melanggar aturan. Sudaryono menegaskan, lembaganya sedang menjalankan komitmen bersih-bersih terhadap pengelola yang tidak mematuhi standar.
“Kami mencoba untuk bersih-bersih, kami mencoba untuk kemudian yang melanggar kami berikan sanksi,” jelasnya.