Asap Karhutla Tertangkap NASA, Indonesia Jadi Sorotan Dunia

Oleh f.andrian
Asap Karhutla Tertangkap NASA, Indonesia Jadi Sorotan Dunia
  • NASA Earth Observatory mempublikasikan citra satelit terbaru yang memperlihatkan asap abu-abu tebal membentang dari sejumlah titik kebakaran di Pulau Kalimantan atau Borneo
  • Sebanyak 535 Zona Musim atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, termasuk sebagian besar kawasan rawan karhutla di Kalimantan

Kepulan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Indonesia kini terlihat jelas hingga dari luar angkasa.

NASA Earth Observatory mempublikasikan citra satelit terbaru yang memperlihatkan asap abu-abu tebal membentang dari sejumlah titik kebakaran di Pulau Kalimantan atau Borneo.

Gambar yang direkam instrumen MODIS pada satelit Aqua milik NASA pada 1 September 2026 itu bahkan dipilih menjadi Image of the Day NASA pada 3 September 2026, membuat kondisi kebakaran Indonesia kembali mendapat perhatian di tingkat internasional.

Dalam citra tersebut, NASA menggambarkan kepulan asap tebal berasal dari banyak kebakaran yang tersebar di Borneo, sementara peta deteksi menunjukkan banyak anomali panas terkonsentrasi di bagian selatan pulau.

Titik merah dalam gambar bukan otomatis berarti satu kebakaran untuk setiap titik, melainkan piksel yang oleh sensor dan algoritma MODIS terdeteksi memiliki anomali termal yang mengindikasikan adanya api. Bahkan, satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan beberapa titik deteksi sekaligus.

Yang membuat situasinya lebih serius adalah karakter lahan gambut Indonesia. NASA menyebut Indonesia memiliki sekitar 36 persen lahan gambut tropis dunia.

Ketika gambut mengering akibat kemarau, api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi dapat merambat dan terus membara di bawah tanah.

Kebakaran gambut juga sangat mencemari udara; NASA mengutip penelitian yang memperkirakan kebakaran gambut dapat menghasilkan sekitar tiga kali lebih banyak partikel halus dibanding kebakaran hutan tropis lainnya, serta emisi sulfur dioksida, karbon organik, metana, dan karbon monoksida dalam jumlah lebih tinggi.

Kondisi kering ekstrem menjadi salah satu pemicunya. BMKG mencatat pada Dasarian I Agustus 2026 sekitar 90,79 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan rendah, sementara 87,28 persen berada dalam kondisi hujan di bawah normal.

Sebanyak 535 Zona Musim atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, termasuk sebagian besar kawasan rawan karhutla di Kalimantan.

NASA juga menyoroti penguatan El Niño dan fase positif Indian Ocean Dipole sebagai kombinasi yang dapat memperparah kekeringan dan meningkatkan risiko kebakaran.

Data pemerintah turut memperlihatkan betapa besarnya tantangan di lapangan. Kementerian Kehutanan mencatat 946 hotspot berkepercayaan tinggi secara nasional hingga 30 Agustus 2026 malam, dengan konsentrasi terbesar berada di Kalimantan Barat sebanyak 455 titik dan Kalimantan Tengah 308 titik.

Pada periode tersebut, petugas masih menangani puluhan lokasi karhutla di berbagai provinsi. Asap bahkan menekan jarak pandang di Bandara Supadio Pontianak hingga sekitar 1,3 kilometer dan Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya sekitar 1,5 kilometer pada 31 Agustus pagi.

Kepala BNPB Suharyanto mengingatkan bahwa kebakaran di Kalimantan tidak dapat dinilai hanya dari apa yang terlihat di permukaan.

“Kondisi Karhutla di Kalimantan memiliki karakteristik yang berbeda karena banyak terjadi di lahan gambut. Permukaan lahan yang terlihat sudah padam belum tentu bara di bawahnya benar-benar mati,” ujarnya.

Karena itu, pemerintah mengerahkan pemadaman darat, water bombing, serta Operasi Modifikasi Cuaca. BNPB pada Agustus menyiagakan sekitar 30 helikopter untuk Kalimantan, sementara puluhan armada lainnya ditempatkan di Sumatera. Pemerintah pun menegaskan September menjadi periode yang harus diwaspadai.

“Hasil evaluasi sepanjang Agustus menunjukkan tren penanganan yang membaik di sejumlah wilayah. Namun, ini bukan alasan untuk berpuas diri. Bulan September adalah fase krusial bagi kita untuk meningkatkan kewaspadaan penuh dan memperkuat koordinasi pemadaman.” Kata Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni.

Kemenhut menjalankan lima strategi utama, mulai dari Operasi Modifikasi Cuaca, water bombing, penguatan satgas darat, penegakan hukum terhadap pembakar lahan, hingga edukasi masyarakat.

Sorotan NASA sekaligus menjadi pengingat bahwa karhutla Indonesia bukan semata persoalan lokal.

NASA memperkirakan hingga 2 September 2026, emisi gas rumah kaca dari musim kebakaran Indonesia tahun ini sudah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah yang dilepaskan sepanjang kebakaran besar 2015, meski musim kebakaran 2026 baru berlangsung sekitar satu bulan.

Dalam konteks Indonesia sebagai pemilik salah satu kawasan gambut tropis terbesar dunia dan adanya risiko asap lintas batas, citra Kalimantan yang kini terlihat jelas dari luar angkasa menunjukkan bahwa persoalan karhutla Indonesia dapat dengan cepat berubah menjadi perhatian lingkungan regional bahkan global.

Sumber: NASA

( fan / fan )

Komentar (0)