Isu Keretakan Jokowi-Prabowo: Analisa, Adu Domba, hingga Pemilu 2029
- Ketua Umum DPP Projo Budi Arie Setiadi menyebut ada banyak pihak yang berupaya mengadu domba Presiden ke-7 Joko Widodo dan Presiden Prabowo Subianto.
Ketua Umum DPP Pro Jokowi (Projo) Budi Arie Setiadi menyebut ada banyak pihak yang berupaya mengadu domba Presiden ke-7 Joko Widodo dan Presiden Prabowo Subianto. Pernyataan itu disampaikan di tengah munculnya anggapan bahwa Jokowi mulai menjauh dari Prabowo setelah Budi Arie sebelumnya menyinggung kemungkinan Pemilu 2029 digelar lebih cepat.
Budi Arie menilai isu tersebut berpotensi membentuk persepsi seolah-olah Jokowi ingin mengakhiri kerja sama politik dengan Prabowo. Dia menegaskan pandangan mengenai kemungkinan percepatan pemilu merupakan analisis pribadi dan tidak merepresentasikan sikap maupun pemikiran Jokowi.
“Gini loh, pihak-pihak yang ingin mengadu domba Pak Jokowi dan Pak Prabowo ini kan banyak sekali,” kata Budi Arie.
Dia meminta pernyataannya tidak dikaitkan dengan Jokowi meskipun mantan kepala negara tersebut berada di sampingnya ketika analisis itu disampaikan. Dia menegaskan pandangan mengenai kemungkinan pemilu dipercepat sebelum 2029 merupakan tanggung jawab pribadinya.
“Jangan di-framing-framing Pak Jokowi mau ini, seperti ini,” ujarnya.
Menurut dia Jokowi justru bersikap menenangkan ketika bertemu dengan para relawan yang menyampaikan sejumlah masukan. Dia mengatakan Jokowi saat itu menyampaikan bahwa kondisi perekonomian Indonesia masih berada dalam jalur yang terkendali.
Lebih lanjut dia menyebut Jokowi menyoroti pertumbuhan ekonomi yang berada di atas 5 persen dan inflasi sekitar 3,2 persen. Dia kemudian menirukan pernyataan Jokowi yang menilai kondisi tersebut masih berjalan sesuai jalur.
“Masih semuanya on the track,” kata Budi Arie menirukan pernyataan Jokowi.
Dia juga memisahkan pernyataan pribadinya dari sikap organisasi Projo yang selama ini memiliki kedekatan politik dengan Jokowi. Dia mengatakan Projo tetap berkaitan dengan Jokowi sehingga pandangan pribadinya tidak semestinya dianggap sebagai sikap organisasi.
“Ya kalau Projo masih terkait dengan Pak Jokowi dong. Biar itu pernyataan pribadi, itu saya tanggung jawab pribadi,” katanya.
Dia tidak mempersoalkan apabila analisisnya mengenai kemungkinan percepatan pemilu nantinya terbukti keliru. Dia menyerahkan pembuktian atas analisis tersebut kepada perkembangan politik dan perjalanan waktu.
“Nah, soal insting itu peleset atau enggak, ya sudahlah. Biarlah waktu menemukan takdirnya sendiri. Namanya juga analisis, ya kan? Ya biarlah sejarah menemukan takdirnya sendiri,” jelasnya.
( sir / sir )
Komentar (0)