Tim Investigasi UBK Bongkar Kronologi Aliran Rp 20 Juta ke Eks Ketua BEM FH, Fakta Baru Terungkap
- Universitas Bung Karno (UBK) mengungkap temuan baru dalam investigasi dugaan penerimaan uang sebesar Rp20 juta oleh mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakul
Universitas Bung Karno (UBK) mengungkap temuan baru dalam investigasi dugaan penerimaan uang sebesar Rp20 juta oleh mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum (BEM FH), Muhammad Abdimaludin, terkait demonstrasi pada 15 Juni 2026. Hasil klarifikasi sementara menunjukkan uang tersebut diterima setelah aksi berakhir, meski kesepakatan disebut telah dilakukan sebelum demonstrasi berlangsung.
Tim investigasi pada Kamis (25/6) memanggil tiga mahasiswa untuk dimintai keterangan, yakni Muhammad Abdimaludin, mantan Ketua BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UBK Pujiono, serta mantan Wakil Ketua BEM FEB UBK Muhammad Rafi Bastian. Pemeriksaan itu menjadi tahapan awal untuk menelusuri alur dana dan kronologi peristiwa yang terjadi sebelum hingga sesudah demonstrasi.
"Hari ini kita baru mengadakan pemanggilan pertama kali pada teman-teman yang kemarin ikut di dalam aksi tanggal 15 Juni itu," ujar Ketua Tim Investigasi Demo 15 Juni UBK, Eko Suryo S, saat ditemui di Kampus UBK, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis malam.
Dia menjelaskan hasil pemeriksaan sementara menghasilkan fakta yang berbeda dari informasi yang sebelumnya beredar. Berdasarkan pengakuan para pihak yang diperiksa, uang Rp20 juta tidak diterima sebelum aksi, melainkan baru diserahkan setelah demonstrasi selesai.
"Jadi mereka dapat uang itu dari senior mereka yang memang selama ini dekat dengan aparat kepolisian. Dan diberikannya uang setelah aksi demo. Jadi uang itu mereka terima setelah mereka demo. Walaupun deal-nya dilakukan sebelum demo," tuturnya.
Dia menerangkan kesepakatan tersebut terjadi pada pagi hari sebelum aksi dimulai. Pertemuan itu disebut melibatkan Abdimaludin selaku koordinator lapangan, dua orang senior alumni UBK, serta seorang yang diduga berasal dari aparat kepolisian.
Menurut hasil klarifikasi, Abdimaludin diminta mengalihkan titik demonstrasi dari depan Istana Merdeka menuju kompleks DPR. Sebagai imbalannya, uang Rp20 juta dijanjikan akan diberikan setelah seluruh rangkaian aksi berakhir.
"Jadi deal-nya uang itu dikasih dalam rangka mindahin demo. Itu deal doang. Setelah demo selesai uang akan dikasih," kata Eko.
Dia menambahkan pelaksanaan demonstrasi pada akhirnya berlangsung di Jalan Medan Merdeka Selatan, bukan di depan Gedung DPR sebagaimana isi pembicaraan sebelumnya. Meski lokasi aksi tidak sesuai dengan kesepakatan awal, Abdimaludin tetap disebut menerima uang sebesar Rp20 juta.
"Dikasihkan secara langsung. Penyerahan oleh salah satu dari dua seniornya Abdi. Uang diberikan di salah satu kafe di Cikini," ujarnya.
Dia mengatakan berdasarkan pengakuan Abdimaludin, sosok yang diduga merupakan aparat kepolisian tidak hadir ketika uang tersebut diserahkan. Penyerahan disebut hanya dilakukan oleh salah seorang senior yang sebelumnya ikut dalam pembicaraan sebelum demonstrasi.
Setelah menerima uang, Abdimaludin mengaku membagikan sebagian dana tersebut kepada empat orang pada keesokan harinya. Keempat penerima itu adalah Wakil Ketua BEM FH Rafly Maulana Akbar, pengurus BEM FH Mubarak Tuasamu, Pujiono, dan Muhammad Rafi Bastian.
Masing-masing dari empat orang tersebut menerima uang sebesar Rp2 juta. Sementara itu, sisa dana masih berada dalam penguasaan para penerima karena rencananya akan digunakan untuk kebutuhan aksi berikutnya.
"Rata-rata masih utuh. Bahkan Abdi pun masih punya sisa Rp3 juta kalau enggak salah. Uang masih utuh karena rencananya buat demo berikutnya, jadi belum diapa-apain," ungkap Eko. Dia menegaskan proses investigasi belum selesai dan masih akan terus berlanjut. Tim investigasi dijadwalkan kembali melakukan klarifikasi pada Senin (29/6), termasuk memanggil dua nama lain yang disebut turut menerima aliran dana tersebut guna melengkapi rangkaian pemeriksaan.