Jejak Bakteri di Balik Keracunan MBG: S. aureus, B. cereus, hingga E. coli

Oleh Sir Arafat
Jejak Bakteri di Balik Keracunan MBG: S. aureus, B. cereus, hingga E. coli
  • Pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang diduga terkait kasus keracunan MBG di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, menemukan tiga jenis bakteri patogen.

Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang diduga terkait kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, menemukan tiga jenis bakteri patogen. Temuan itu menjadi perhatian setelah ratusan siswa dilaporkan mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi makanan.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi Sumatera Utara, Pulo, membenarkan hasil pemeriksaan tersebut kepada wartawan. Dia mengatakan pengujian sampel dilakukan atas permintaan Dinas Kesehatan Kabupaten Karo.

“Bakteri yang kami temukan itu, ya, ada beberapa jenis yaitu Staphylococcus aureus, kemudian juga Bacillus cereus, dan juga Escherichia coli,” ujar Pulo di Sumatera Utara.

Ketiga bakteri tersebut dapat menyebabkan penyakit akibat pangan dengan mekanisme yang berbeda. Sebagian menghasilkan toksin di dalam makanan, sedangkan jenis lainnya dapat memicu infeksi pada saluran pencernaan.

Staphylococcus Aureus

Staphylococcus aureus merupakan bakteri yang secara alami dapat ditemukan pada kulit dan tangan manusia tanpa selalu menyebabkan penyakit. Risiko muncul ketika bakteri berpindah ke makanan melalui tangan, peralatan, atau proses pengolahan yang tidak higienis.

Bakteri ini dapat menghasilkan enterotoksin ketika berkembang biak dalam makanan pada kondisi penyimpanan yang mendukung pertumbuhannya. Persoalannya, toksin yang telah terbentuk relatif tahan terhadap panas sehingga memasak makanan tidak selalu menghilangkan seluruh risiko.

Keracunan akibat S. aureus umumnya muncul dalam waktu relatif cepat, sekitar 30 menit hingga delapan jam setelah makanan terkontaminasi dikonsumsi. Gejalanya dapat berupa mual, muntah hebat, kram perut, dan diare yang berisiko menyebabkan kekurangan cairan.

Bacillus Cereus

Bacillus cereus merupakan bakteri pembentuk spora yang banyak ditemukan di lingkungan dan dapat mencemari berbagai jenis bahan pangan. Nasi dan makanan berbasis pati termasuk yang kerap dikaitkan dengan pertumbuhan bakteri tersebut apabila proses pendinginan dan penyimpanannya tidak tepat.

Studi dalam jurnal Tropical Biomedicine pada 2024 menjelaskan bahwa pengaturan suhu menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah pertumbuhan B. cereus pada nasi. Kondisi itu pula yang melahirkan istilah “fried rice syndrome”, yakni keracunan yang sering dikaitkan dengan nasi atau makanan berpati yang terlalu lama dibiarkan pada suhu yang memungkinkan bakteri berkembang.

B. cereus dapat menyebabkan dua bentuk utama gangguan, yaitu sindrom emetik yang didominasi mual dan muntah serta sindrom diare. Pada sindrom emetik, toksin cereulide yang terbentuk dalam makanan dapat memicu gejala sekitar 30 menit hingga enam jam setelah konsumsi.

Sindrom diare memiliki masa inkubasi lebih panjang, yakni sekitar enam hingga 15 jam setelah makanan terkontaminasi dikonsumsi. Keluhannya biasanya berupa diare dan kram perut, meskipun sebagian besar kasus dapat membaik tanpa komplikasi serius.

Spora B. cereus diketahui memiliki ketahanan terhadap panas dan toksin cereulide juga sangat stabil pada suhu tinggi. Artinya, memanaskan ulang makanan belum tentu menghilangkan risiko apabila toksin telah lebih dahulu terbentuk.

E. coli

Escherichia coli atau E. coli secara alami hidup di saluran pencernaan manusia dan hewan, serta sebagian besar jenisnya tidak menyebabkan penyakit. Namun, sejumlah strain bersifat patogen dan dapat memicu penyakit akibat pangan, termasuk Shiga toxin-producing Escherichia coli atau STEC.

STEC menghasilkan toksin Shiga yang dapat merusak sel pada saluran pencernaan dan menyebabkan gangguan lebih berat dibandingkan E. coli nonpatogen. Kontaminasinya dapat berkaitan dengan kebersihan tangan, air, lingkungan, peralatan, serta bahan pangan yang dikonsumsi tanpa proses pemanasan.

Gejala infeksi STEC dapat berupa kram perut hebat, mual, muntah, demam ringan, serta diare yang dalam sejumlah kasus berkembang menjadi diare berdarah. Masa inkubasinya biasanya lebih panjang, sekitar dua hingga lima hari setelah makanan yang terkontaminasi dikonsumsi.

Pada kasus berat, terutama pada anak-anak, infeksi STEC dapat berkembang menjadi hemolytic uremic syndrome atau HUS. Kondisi tersebut dapat memicu kerusakan sel darah merah, penurunan trombosit, hingga gangguan fungsi ginjal akut.

Meski demikian, keberadaan E. coli dalam sampel makanan belum otomatis menunjukkan bahwa bakteri tersebut merupakan STEC. Pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk menentukan strain dan karakter patogen dari E. coli yang ditemukan.

Belum Bisa Disimpulkan dari Satu Temuan

Temuan tiga bakteri patogen menjadi bagian penting dalam penyelidikan kasus keracunan MBG di Berastagi, tetapi belum serta-merta menjelaskan keseluruhan penyebab kejadian. Penyakit akibat pangan dapat dipicu bakteri, virus, parasit, toksin alami, histamin, hingga kontaminan kimia seperti nitrit.

Hasil laboratorium yang beredar juga hanya menunjukkan pemeriksaan terhadap sejumlah parameter bakteri tertentu. Karena itu, masih terdapat kemungkinan agen penyebab lain yang tidak masuk dalam parameter pemeriksaan tersebut.

Investigasi keracunan makanan perlu melihat rangkaian informasi secara menyeluruh, mulai dari jenis makanan, jumlah siswa yang mengalami gejala, waktu konsumsi, hingga waktu munculnya keluhan. Proses pengolahan, penyimpanan, pola gejala, serta distribusi makanan juga penting untuk menentukan sumber dan penyebab kejadian secara lebih akurat.

( sir / sir )

Komentar (0)