Prabowo Akui Pendidikan Indonesia Tertinggal, Digitalisasi Sekolah Jadi Andalan

Oleh Sir Arafat
TL;DR
  • Presiden Prabowo Subianto mengakui kualitas layanan pendidikan di Indonesia masih menghadapi tantangan ketertinggalan yang besar. Pemerintah pun mempercepat dig

Presiden Prabowo Subianto mengakui kualitas layanan pendidikan di Indonesia masih menghadapi tantangan ketertinggalan yang besar. Pemerintah pun mempercepat digitalisasi sekolah sebagai strategi memperluas akses pendidikan yang lebih merata hingga ke daerah terpencil.

Pengakuan tersebut disampaikan Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta. Dia menilai tantangan pendidikan tidak bisa dilepaskan dari luasnya wilayah Indonesia yang menyebabkan pemerataan layanan masih menjadi pekerjaan besar.

Menurut dia, kualitas sumber daya manusia akan menentukan masa depan Indonesia. Karena itu, pemerintah menempatkan peningkatan mutu pendidikan sebagai salah satu prioritas utama pembangunan nasional.

Dia juga menekankan bahwa kualitas generasi mendatang tidak hanya ditentukan oleh kesehatan dan kecukupan gizi. Pendidikan yang berkualitas dinilai menjadi fondasi penting untuk mencetak sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.

"Kita paham pendidikan kita itu banyak ketertinggalan, negara kita sangat besar, luas," kata Prabowo.

Pemerintah menjadikan digitalisasi sekolah sebagai langkah strategis untuk mempersempit kesenjangan layanan pendidikan di berbagai daerah. Salah satu upayanya dilakukan melalui distribusi Interactive Flat Panel (IFP) atau papan interaktif digital ke seluruh sekolah di Indonesia.

Program tersebut tidak sekadar menghadirkan perangkat teknologi di ruang kelas. Kehadiran layar pintar itu diharapkan mampu membuka akses siswa dan guru terhadap materi pembelajaran yang lebih berkualitas dan mudah dijangkau.

Saat ini pemerintah telah menyalurkan satu unit Interactive Flat Panel ke setiap sekolah di Indonesia. Program itu menyasar sekitar 288.000 sekolah, termasuk sekolah yang berada di wilayah terpencil dan sulit dijangkau.

"Kita memiliki 288.000 sekolah, banyak di tempat terpencil, salah satu upaya kita adalah digitalisasi, kita sudah berbagi Interactive Flat Panel, layar pintar di seluruh sekolah Indonesia, satu per sekolah tahun lalu," ujarnya.

Pemerintah juga menyiapkan tahap lanjutan program digitalisasi pendidikan pada tahun ini. Sebanyak tiga unit Interactive Flat Panel tambahan akan dikirim ke setiap sekolah untuk memperkuat proses pembelajaran berbasis teknologi.

Target distribusi tambahan tersebut diperkirakan rampung pada akhir 2026. Dengan demikian, perangkat itu dapat dimanfaatkan secara optimal pada semester pertama tahun ajaran 2027.

"Tahun ini kita akan tambah tiga per sekolah. Saya harap di akhir 2026 sudah terkirim tambahan 700.000 panel atau semester pertama 2027," ucapnya.

Prabowo menilai kehadiran teknologi digital akan memperluas kesempatan belajar bagi seluruh peserta didik di Indonesia. Guru juga diharapkan memperoleh bahan ajar yang lebih beragam sehingga kualitas pembelajaran semakin meningkat.

Menurut dia, digitalisasi sekolah merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkecil kesenjangan mutu pendidikan antardaerah sekaligus mempercepat lahirnya sumber daya manusia Indonesia yang unggul.

"Apa artinya ini? Anak-anak kita, guru-guru kita, punya akses untuk materi pembelajaran terbaik," katanya.